Rabu, 09 Januari 2013

cerita tentang kuansing

Pacu Jalur yang Ramai dan Mistis


Pacu Jalur yang Ramai dan Mistis

Dari Hari Besar Islam Sampai Ulang Tahun Ratu Belanda
Di Kuantan, Riau, ada banyak sungai, makanya jalur atau perahu digunakan sebagai alat transportasi. Awalnya jalur-jalur itu dipacu atau diperlombakan untuk merayakan hari besar agama Islam seperti Maulid Nabi Muhammad, hari raya Idul Fitri, sampai Tahun Baru Islam.
Namun, saat Belanda datang, acara pacu jalur diadakan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wihelmina setiap tanggal 31 Agustus. Saat Indonesia merdeka, pacu jalur pun memeriahkan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.
Sibuk Sebelum Pacu
Pacu jalur ini biasanya berupa lomba bertingkat. Pertama, lomba dulu antar desa. Pemenangnya akan berlomba antar kecamatan. Setelah itu, maju ke lomba antar kabupaten. Kalau menang, gengsinya itu, lo! Bisa meningkat sekali! Nah, bisa kebayang, kan, betapa sibuknya para penduduk desa menjelang pacu jalur.
Pertama, tentu saja jalur harus dibuat. Diperlukan rapek  atau rapat kampung untuk merencanakan pembuatannya. Selanjutnya, jenis kayu harus dipilih dan dicari.
Kayu yang akan dibuat menjadi jalur biasanya antara kayu banio atau kulim kuyiang. Selain kuat dan tahan air, konon kedua kayu itu ada ‘penunggunya’. Sebelum ditebang, biasanya ada pawang yang mengadakan upacara sesaji kepada ‘penunggu’ pohon. Setelah ditebang, mulailah kayu itu dibuat menjadi jalur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar